Menjelang ulang tahun ke-21
Menjelang 22 Mei 2020
Hari ini, H-2 sebelum ulang tahun ke-21.
Gak tau kenapa rasanya sedih banget, masih banyak kelakuan yang tidak sesuai dengan apa yang menurut gue baik. Di luar semua kesempatan yang sudah Allah SWT kasih buat terus berbenah, ini malah sibuk dengan video-video di youtube, drama korea, tweet-tweet yang berseliweran di timeline, baca buku cepat ngantuk, menunda pengerjaan tugas, bikin tweet yang bahkan tidak ada manfaatnya, tidak mengingatkan orang dalam kebaikan, tidak menjadi diri sendiri. Alhamdulillah-nya masih dikasih kesempatan sampai detik ini, untuk nulis blog ini.
Aneh ya, merasa sedih dengan keputusan-keputusan yang dibuat secara sadar, tidak mabuk, tidak sedang jatuh cinta, tidak sedang marah, hanya tidak memiliki visi yang jelas dan bahkan bingung apa yang sebenarnya layak untuk dijadikan visi. Katanya islami, tapi tontonan yang dipilih masih sule dan keluarganya, lebih memilih drama daripada menonton kajian seorang ustadz ternama, lebih memilih stalking mantan dibanding tafakur qur'an, apa sinkroniasi label dan kelakuannya? gak malu? mau sampai kapan seperti ini? tidak menebar kebermanfaatan, bahkan untuk diri sendiri.
Mau sampai kapan?
Sudah sadar bahwa visi hidup itu penting?
Sudah sadar bahwa banyak hal yang dilakukan sia-sia selama hampir 21 tahun?
Sudah ada keinginan untuk membuat "To do list" setiap hari?
Sudah mau memfilter apa yang seharusnya ditonton?
Sudah mau untuk tidak menunda pengerjaan tugas?
Semangat ya Dila, sabar.
Bahwa hidup itu tentang sabar.
Orang sabar itu beruntung,
sepakat no debat.
Hari ini, H-2 sebelum ulang tahun ke-21.
Gak tau kenapa rasanya sedih banget, masih banyak kelakuan yang tidak sesuai dengan apa yang menurut gue baik. Di luar semua kesempatan yang sudah Allah SWT kasih buat terus berbenah, ini malah sibuk dengan video-video di youtube, drama korea, tweet-tweet yang berseliweran di timeline, baca buku cepat ngantuk, menunda pengerjaan tugas, bikin tweet yang bahkan tidak ada manfaatnya, tidak mengingatkan orang dalam kebaikan, tidak menjadi diri sendiri. Alhamdulillah-nya masih dikasih kesempatan sampai detik ini, untuk nulis blog ini.
Aneh ya, merasa sedih dengan keputusan-keputusan yang dibuat secara sadar, tidak mabuk, tidak sedang jatuh cinta, tidak sedang marah, hanya tidak memiliki visi yang jelas dan bahkan bingung apa yang sebenarnya layak untuk dijadikan visi. Katanya islami, tapi tontonan yang dipilih masih sule dan keluarganya, lebih memilih drama daripada menonton kajian seorang ustadz ternama, lebih memilih stalking mantan dibanding tafakur qur'an, apa sinkroniasi label dan kelakuannya? gak malu? mau sampai kapan seperti ini? tidak menebar kebermanfaatan, bahkan untuk diri sendiri.
Mau sampai kapan?
Sudah sadar bahwa visi hidup itu penting?
Sudah sadar bahwa banyak hal yang dilakukan sia-sia selama hampir 21 tahun?
Sudah ada keinginan untuk membuat "To do list" setiap hari?
Sudah mau memfilter apa yang seharusnya ditonton?
Sudah mau untuk tidak menunda pengerjaan tugas?
Semangat ya Dila, sabar.
Bahwa hidup itu tentang sabar.
Orang sabar itu beruntung,
sepakat no debat.
Comments
Post a Comment