Karya dan Pemiliknya
Seorang teman pernah berkata pada saya "Sebenarnya, aku ingin sekali menulis bait-bait puisi sendu yang menyayat hati, tapi entah mengapa orang lain banyak menganggap aku sedang mengalami hal yang ku tulis, nyatanya tidak seperti itu."
Memang begitu, saya pernah membaca artikel atau buku yang menyatakan bahwa seseorang tidak akan pernah lepas dari citra karya yang dihasilkannya, padahal seharusnya karya dan pemilik karya menjadi dua hal yang berbeda, dua benda yang tidak saling mempengaruhi.
Apa benar hidup setiap penulis bait puisi yang sendu itu, selalu dalam kesedihan? Bukankah tiap individu memiliki luka yang tidak akan sembuh walau sudah usang oleh waktu? Tapi tetap saja, itu tidak mencerminkan bahwa si penulis sedang menangisi luka tersebut.
Tapi, lagipula ini hanya teori, akupun kadang begitu. Sama seperti kebanyakan orang, masih beranggapan si penulis sedang mengalami sakit hati yang dalam, padahal, dengan menulis puisi itu, si penulis bisa menjadi lebih baik, atau bahkan sekarang kamu yang mengingat luka masa lalumu karna membaca puisi-nya?
Hebat si penulis, berhasil memutarbalikan keadaan, jadi kamu sekarang yang terluka (lagi).
Comments
Post a Comment